/* Header Mobile Redesign by Simeyong.com */ @media only screen and (max-width:480px){#header,#header .widget .blog-title-wrap{margin:0px}#header,#social-button{max-width:50%}#header .widget p.title-description{margin-top:0px}#header,#social-button{text-align:right}#header-outer #header-content{padding:3px 20px}#social-button .social-icon{margin:3px 0;padding:3px}}@media only screen and (max-width:350px){#header .widget .blog-title-wrap{margin:0 auto}#header{max-width:100%;margin-bottom:10px}#header .widget p.title-descriptio{margin-top:8px}#header,#social-button{text-align:center}#header-outer #header-content{padding:22px 22px 12px}}

Widget HTML Atas

SIFAT PELUPA MEMBUAT BAHAGIA (1)

Jaman kuliah, aku dijuluki dan dipanggil dengan nama ‘nenek’, karena pelupa. Saking melekatnya julukan ‘nenek’ itu, sampai banyak yang nggak tahu nama asliku. Ada saja teman-teman yang akhirnya tanya ‘eh nama asli loe siapa sih?’

Bahkan beberapa kali, aku disapa cowo di mall, dan ditanya “Nenek ya? Nenek Unpar?”
Lalu mereka memperkenalkan diri sebagai anak ITB, atau Maranatha... hehehehe... nama ‘merek’ku udah menyebar ke kampus lain. Tapi mereka nggak tahu namaku yang sebenarnya.

Sebetulnya, aku tidak pelupa.
Tapi aku memilih dengan sadar untuk melupakan banyak hal, yang menurutku tidak relevan, tidak penting, atau bukan fokus utamaku. Misalnya : wajah dan nama orang... juga perbuatan dan komentar negatif orang lain. 

Tujuan awalku, sebetulnya adalah untuk menjaga moodku aja. Supaya prima terus. Lagian aku memerlukan kepalaku untuk mikirin kegiatan berikutnya....yang datang bertubi-tubi. Ketika itu, aku sangat getol mengeksplorasi diri dan aktif di berbagai kegiatan kampus dan kepanitiaan.... sampai seorang dosen pernah berkomentar :

“Kamu ini menjadikan kuliah sebagai ekskul ya? Kok malah sibuk banget sama kegiatan kampus sampai nggak pernah kuliah. Awas ya kalau nilai UTS-UASnya jelek....”

Dia tanya begitu karena aku sering mengajukan surat dispensasi untuk nggak ikut kuliah... karena bolak-balik harus mewakili kampus. 

Kembali ke cerita soal pelupa yang disengaja, begitulah caraku untuk memelihara kebahagiaanku dan kewarasanku, untuk menjalani kehidupan yang sibuk. ‘Mendingan gue mikirin kerjaan, ketimbang mikirin tingkahnya orang lain.’ Begitulah mottoku.

Pernah sekali, ada seorang kakak kelas yang komen nyinyir di depanku dan banyak orang. Semua ketawa, tapi nggak kutanggapi. Lalu kulupakan. Bahkan wajah dan nama dia pun kuhapus dari ingatanku. 

Sekali itu, saking suksesnya aku melupakan.... aku bisa salaman sama orang itu lagi untuk memperkenalkan diriku padanya, di sebuah kesempatan.

Orang itu kaget banget, ekspresi wajahnya jadi aneh. Sementara teman lain ngakak lalu komen “Loe kan udah kenal dia neeek....! Dasar pikun looo!”

Dan aku cuma jawab, “Oh? Masak iya?”
Lalu ikut ketawa. Tapi kulihat orang itu jadi kecut dan beringsut pergi. 

Saat itulah ada sahabatku yang menarikku menjauh dan bisik-bisik, 
“Elo serius lupa nek? Kan dia pernah ngeme* elo, ngatain elo gini-gitu waktu itu...” lalu berceritalah dia tentang kejadian yang telah lewat.

Astagaaa aku serius lupa...!

Sejak itu aku jadi semakin rajin mengabaikan peristiwa dan orang negatif... Karena aku jadi ngeh : hidupku jadi enteng banget karena nggak harus mengenang-ngenang kejadian yang buruk dan orang yang hatinya ‘burik’.

Nana Padmosaputro
Minggu, 9 Februari 2020, 10:14

*ngeme = keme = ‘makan’
Istilah tahun 1980’an yang berarti ‘dikatain’ atau ‘diledek’ atau ‘dihina’ atau ‘dihabisi’

——
Sambungan :

SIFAT PELUPA MEMBUAT BAHAGIA (2) :
https://www.facebook.com/100017404159440/posts/561233307800136/?d=n

SIFAT PELUPA MEMBUAT BAHAGIA (3) :
https://www.facebook.com/100017404159440/posts/561247341132066/?d=n

Tidak ada komentar untuk "SIFAT PELUPA MEMBUAT BAHAGIA (1)"