Amorfati

Dulu ceria dan tertawa, sekarang berganti air mata. Mungkin itu kata-kata yang cocok untuk menggambarkan masa dewasa. Berbeda dengan masa kecil, kita memandang dunia dengan penuh optimisme, berpikir bahwa semua akan baik-baik saja, segala cita-cita yang kita impikan akan terwujud, kita berharap bisa menjadi manusia yang bebas bak burung diatas sana tapi nasib berkata lain. Ternyata kehidupan tidak lebih dari neraka, semangat kita semakin mengecil dan mulai berharap mesin waktu itu ada.
Realitanya justru tidak seperti yang kita harapkan, bahkan bisa sangat berbanding terbalik. Pada saat remaja beranjak dewasa, kita mulai diserang oleh beragam masalah mulai dari pertemanan, pekerjaan, percintaan, keuangan dan banyak masalah lainnya. Tak jarang, kita mendapati diri sendiri duduk melamun sambil makan mentimum menyesali keputusan yang telah kita buat, memikirkan hal bodoh yang kita lakukan di masa lalu, berandai-andai apa yang terjadi jika kita memilih jalur yang berbeda serta terlalu mengkhawatirkan masa depan yang akan datang.
Filsuf jerman yang paling terkenal, tidak lain dan tidak bukan adalah Friedrich Nietzsche memiliki formula yang disebut amor fati untuk mengatasi segala penyesalan dan ratapan tersebut. Amor fati yang berarti cinta takdir adalah formula atau mindset untuk menerima apapun yang terjadi, tidak peduli seberapa berat apapun cobaan dan rintangan, kita harus merangkul nasib serta mencintainya dengan penuh hati dan menjadi manusia yang baik setiap harinya sebagaimana Nietzsche dalam kutipannya berkata :
“That one wants nothing to be different, not forward, not backwards, not in all eternity. Not merely bear what is necessary, still less conceal it….but love it.”
Pada usia 67 tahun, Thomas Edison pulang ke rumah lebih awal pada suatu malam dari tempat kerjanya untuk makan malam bersama keluarga. Dia adalah penemu asal amerika yang paling terkenal dan berpengaruh, pada saat itu dia sedang berada pada masa suksesnya namun hal ini tidak berlangsung lama. Saat dia selesai makan, seorang pria bergegas ke rumahnya dengan sebuah berita penting, kebakaran terjadi di lab penelitian dan produksi milik Edison beberapa mil jauhnya.
Mendengar berita tersebut, Edison langsung pergi ke tempat kejadian dan menyaksikan labnya terbakar habis. Menariknya, dia dengan tenang berkata kepada anaknya, “Cepat panggil ibumu dan teman-temannya, mereka tidak akan melihat api seperti ini lagi. Jangan khawatir, kita baru saja membuang banyak sampah yang tidak terpakai”. Di saat kejadian sepert itu, Edison masih sanggup berdiri tegar sambil menenangkan anaknya.
Semua penelitian yang dilakukannya selama bertahun-tahun tiba-tiba menjadi abu hanya dalam semalam. Apa yang bisa dipelajari dari Edison? Keputusasaan bukan lah reaksi yang dia berikan pada malam itu, dia tidak menangis, dia tidak merengek, dia tidak bertanya-bertanya mengapa hal seperti ini terjadi pada dirinya. Alih-alih putus asa, dia berdiri tegar menerima apa yang terjadi dan menganggap bahwa ini kesempatan baru untuk memulai dari awal dan melakukannya dengan lebih baik.
Kembali Ke Nietzsche, dalam hidupnya, ada banyak hal yang dia ingin coba ubah dan atasi tapi tidak berakhir indah, dia mencoba keluar dan menjauh dari akademia dan menjadi seorang penulis lepas, dia mencoba mencari istri atau kekasih yang juga intelektual, dia berharap bukunya terjual banyak, dia memiliki cinta mendalam kepada seorang wanita namun tidak pernah terbalas dan akhirnya ditinggal. Tentu banyak ratapan dan penyesalan dalam dirinya, sehingga ide tentang amor fati yaitu mencintai nasib dan menerima segala yang terjadi tumbuh kuat dalam diri seorang Nietzsche.
Masalah dan tantangan yang terjadi bisa saja diluar kendali kita tapi kita bisa selalu memilih respon atau reaksi terhadapnya.
Komputer yang sering dipakai rusak? Oke, mungkin sudah saatnya untuk mengganti dengan yang baru.
Perusahaan yang saya dirikan gagal? Oke tidak masalah, ada banyak hal yang telah saya pelajari dan tidak akan lagi saya ulangi di kesempatan selanjutnya.
Hubungan asmara tidak berjalan dengan baik? Tidak masalah, amor fati, mungkin kita berdua memang tidak cocok.
Dipecat dari pekerjaan? Oke amor fati, saya akan mencari pekerjaan lain yang cocok dan sekarang saya jadi punya banyak waktu untuk bersantai bersama keluarga dirumah.
Dan itulah yang harus kita lakukan setiap kali ada tantangan dan masalah yang kita hadapi, tidak peduli seberapa ringan dan berat kita berkata amor fati. Cintai nasib dan terima segala sesuatu yang terjadi, tidak menyesali tapi apa yang bisa saya pelajari dari masalah ini sehingga saya bisa menjadi lebih baik di kemudian hari.
Jika saja hal-hal buruk di masa lalu tidak pernah terjadi, kita tidak akan pernah menjadi sekuat ini. Kita membutuhkan sedikit banyak penderitaan dan rasa sakit untuk menghadapi dunia yang kejam. Memang banyak sekali hal yang terjadi diluar kendali kita manusia tapi kita selalu bisa memilih respon terhadapnya, selalu ada pelajaran dari tiap masalah, terserah bagaimana kita mengartikannya. Akhir kata, Jangan lupa amor fati.
Referensi :
https://www.youtube.com/watch?v=2Xzh1BjCA5Q
https://dailystoic.com/amor-fati-love-of-fate/
https://medium.com/thrive-global/the-unfathomable-power-of-amor-fati-ed947f660ad9
https://medium.com/antidotes-for-chimps/the-power-of-amor-fati-ccdcdebbf37f

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url