BAHAYANYA OVER EKSPEKTASI

SAMPAI KAMERA XIAOMI LEBIH BAIK DARIPADA KAMERA iPHONE

Malam tadi, saya mengobrol panjang dengan teman saya selepas sholat Isya, lebih tepatnya saya mendengarnya dia bercerita tentang kekecewaannya terhadap suatu produk premium yang dibelinya beberapa waktu lalu. Jadi teman saya ini sebelumnya pengguna Samsung S9+, namun dikarenakan regulasi tentang IMEI di Turki yang mirip seperti di Indonesia, telefon teman saya ini koneksinya tertutup dan tidak bisa digunakan lagi. Selepas itu dia sempat mengganti hapenya dengan series note 10 dari Xiaomi, sebelum menggantinya dengan iPhone 11 Promax.

Sekilas tidak ada yang aneh sebelum dia tiba-tiba memainkan kamera telefonnya sambil memanggil saya, ‘Fath, kok gue lebih merasa sreg sama kamera Xiaomi yah? Daripada kamera iPhone? Apa gue aja yang lebay atau bagaimana? Seperti ngerasa tidak puas, dan bertanya-tanya apakah kualitas kamera iPhone cuman segini ya?’ curhat dia. Sebenarnya apa yang salah? Penilaian teman saya? Atau memang hape Xiaomi lebih bagus daripada hape iPhone?

Jawabannya tidak keduanya, kamera iPhone tetaplah salah satu yang terbaik, meski saya juga tidak mengatakan kamera Xiaomi jelek. Namun dalam kasus ini, yang keliru adalah ekspektasi atau harapan teman saya yang terlalu tinggi terhadap iPhone, yang membuat dia tidak merasa puas dengan hasil kamera hapenya. Ekspektasi berlebih inilah, yang membuat bias penilaian teman saya dan membuat dia tidak puas terhadap pembelian telefon yang dia lakukan. Tapi sebenarnya, apa sih faktor yang membuat kita terlalu berharap dan apa saja dampak negatif dari terlalu berharap? Yuk kita diskusikan bersama.

1. Termakan hype sesaat
Kebanyakan dari kita, lebih sering tertipu dengan tampilan luar dari suatu benda. Entah itu terlihat lebih baik, lebih berkilau, dan sebagainya. Kita juga sering terpedaya dengan ajakan sesat dari circle kita yang memperdaya kita seolah-olah kita perlu barang tersebut, padahal sebenarnya tidak. Ini yang perlu kita hindari, jangan sampai akhirnya barang yang kita beli hanya dipakai beberapa kali, atau bahkan tidak sama pernah terpakai sama sekali.

2. Tidak melakukan riset yang baik
Riset itu penting. Selalu cari tahu terlebih dahulu tentang produk yang ingin kita beli, pelajari seutuhnya tentang kekurangan dan kelebihannya. Usahakan juga membaca review dari beberapa sumber yang berbeda agar kita tidak tertipu dengan review abal-abal yang bisa jadi disponsori oleh produk tersebut. Biasakan juga berbagi ide belanja kita dengan teman yang memiliki pengetahuan di bidang itu, side opinion selalu penting, karena bisa jadi ada bagian yang luput dari kita.

3. Keliru memilih perbandingan
Terkadang kita salah memilih lawan sebagai perbandingan barang yang kita beli. Dalam kasus teman saya, karena dia sempat merasa puas dengan hape Xiaomi dia yang harganya 1/5 dari hape iPhone dia, wajar ketika dia memiliki ekspektasi berlebih terhadap iPhonenya. Hal ini ditambah dia yang sudah terbiasa menggunakan kamera Sony aplha series membuat penilaian dia bias terhadap iPhone. Semahal apapun, kamera hape memang tidak bisa disandingkan dengan DSLR bukan? Jadi, selalu memilih perbandingan yang setara, baik dari segi harga maupun kualitas.

Membeli barang impian memang menjadi keinginan semua orang, tapi tiga hal di atas tidak boleh kita lewatkan. Selalu lakukan riset yang matang, komparasi yang adil, serta mengutamakan skala prioritas terlebih dahulu sebelum berbelanja. Jadilah konsumen yang cerdas, dan jangan lupa juga berderma, selamat berbelanja.

----------------------------‐-------------------------------------

[“Mentor EB adalah divisi yang dibuat oleh EB tahun 2020 lalu. Tujuannya untuk menerbitkan konten yang berkualitas dan juga bisa membimbing kalian yang ingin menerbitkan postingan di grup ini. Kamu bisa menghubungi saya atau mentor lain jika kamu bingung dan butuh bantuan.”]

Yuk kunjungi juga media EB ID lainnya.
Fanspage: [fb.me/ensikpediaID]
YouTube: [youtube.com/channel/UCLaV06Sm2OUbcDvO_nVL6kA]
Instagram: [instagram.com/ensiklopediabebasid]

‐------------------------------------------------------------------

Referensi :
1. Millati, Izzul. 2021. “Mengapa sebaiknya kita gak terlalu berharap? 4 fakta ilmiah ini akan menjawabnya”. Diakses dari https://www,rimma,co/103457/self-care/mengapa-sebaiknya-kita-gak-terlalu-berharap-4-fakta-ilmiah-ini-akan-menjawabnya pada 4 April 2021
2. Priherdityo, Endro. 2016. “Studi: terlalu berharap menyebabkan kekecewaan mendalam.” Diakses dari https://m,cnnindonesia,com/gaya-hidup/20160926105345-255-161135/studi-terlalu-berharap-sebabkan-kekecewaan-mendalam. Pada 4 April 2021
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url