Ekspedisi Amerika 1853

Hingga petengahan abad ke-19, Jepang masih menganut sistem monarki feodal, yang sangat menutup diri dari dunia luar. Keadaan itu membuat struktur sosial dan sistem politik internasional di Jepang hanya berubah sedikit selama berabad-abad.

Salah satu penyebab Jepang sangat tertutup dari budaya luar adalah letak geografis negara kepulauan itu yang terpisah dari dataran utama Asia. Tidak hanya terisolasi di benuanya sendiri, tetapi juga oleh berbagai negara yang terhalang oleh lautan luas.
Oleh karenanya, tidak berlebihan tentunya jika para sejarawan menyebut Jepang sebagai negara yang terabaikan dari sejarah peradaban dunia.

Angin perubahan mulai di Jepang, Pada Rabu pagi hari, 8 Juli 1853, Komodor Matthew Perry dari Angkatan Laut AS berlayar ke Teluk Edo, di Jepang dengan dua kapal uap dan dua kapal layar yang berwarna hitam, di bawah komandonya. Dia mendaratkan skuadron pelaut dan marinir yang bersenjata lengkap, lalu memindahkan salah satu kapalnya dengan gesit ke pelabuhan, agar banyak orang bisa melihat ukuran ke’angkeran’ kapal perang tersebut.
Orang-orang Jepang terkesima. Tak pernah mereka menyaksikan sesuatu seperti itu sebelumnya. Mereka mengira kapal-kapal itu adalah ular-ular naga berukuran maha besar yang mendenguskan asap karena marah. Mereka belum tahu kapal uap telah diciptakan. Mereka kian terkejut ketika tahu bahwa armada kapal itu diperlengkapi senjata berukuran besar. Sejak 1639, pemerintahan militer Tokugawa menerapkan politik isolasi (Sakoku) yang membatasi secara ketat pengaruh asing yang masuk ke dalam negeri. 

Tiba-tiba, Jepang menyadari bahwa budaya mereka, sistem politik mereka, dan teknologi mereka sudah ketinggalan zaman. Para pemimpin samurai-prajurit dan budaya kehormatan mereka tidak mampu bersaing di dunia yang didominasi oleh sains.

Komodor ini punya misi. Ia membawa surat dari Presiden AS waktu itu, Millard Fillmore kepada Kaisar Jepang, surat itu berisi ancaman Amerika Serikat (AS) terhadap Jepang jika mereka tidak membuka jalur perdagangan dengan negaranya.
AS memberi waktu kepada Jepang selama satu tahun untuk mempertimbangkan ultimatum tersebut, jika Jepang menolak, maka kapal-kapal perang itu akan menggempur wilayah Jepang.
Kemudian pada waktu yang telah dijanjikan, pasukan AS kembali datang ke Jepang. Pada 31 Maret 1854, ditandatangani sebuah perjanjian, yang dikenal sebagai Perjanjian Kanagawa. Sejak saat itu, Jepang akhirnya bergabung dengan komunitas dunia.

Jepang memasuki era baru, mulai membuka diri. Kekuasaan yang sebelumnya dipegang oleh pemerintahan militer dikembalikan kepada kaisar. Kaisar menjadi kepala negara, namun pemerintahan dan politik dijalankan sekelompok intelektual Jepang. Negeri Matahari Terbit mencanangkan program reformasi besar-besaran dengan semboyan “Negara yang Kaya dan Angkatan Bersenjata yang Kuat” (fukoku-kyohei). Tujuan utamanya menciptakan sebuah bangsa yang mampu berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa Barat. Reformasi itu kemudian dikenal dengan nama Restorasi Meiji.

Restorasi ini merupakan sebuah perombakan besar-besaran terhadap nyaris setiap aspek kehidupan di Jepang. Sistem pembagian kerja berdasarkan kelas dihapuskan, wajib belajar diberlakukan, wajib militer menjadi satu keharusan, parlemen (Diet) dibentuk berdasarkan sebuah konstitusi baru yang diberlakukan pada 1889.

Untuk mengejar ketertinggalannya dari Barat, Jepang mendatangkan lebih dari 3.000 tenaga ahli dari Barat dengan beragam keahlian. Tenaga ahli itu bertugas mengajarkan sains modern, bahasa asing, dan teknologi. Pemerintah Meiji juga mengirimkan ribuan siswa untuk belajar di luar negeri.

Kualitas masyarakat Jepang yang hingga saat ini masih terus memukau dunia, terbukti ketika mereka dapat menyetarai teknologi Eropa dan Amerika Serikat, hanya dalam kurun waktu seperempat abad setelah mereka memulai Restorasi Meiji pada 1868.

`

Sumber : https://www.google.com/amp/s/m.kumparan.com/amp/potongan-nostalgia/peristiwa-bergabungnya-jepang-dalam-lingkaran-sejarah-dunia-1543486192923510092

https://www.google.com/amp/s/historia.id/amp/ekonomi/articles/jepang-dari-isolasi-hingga-industri-vq4yD

https://www.google.com/amp/s/www.goodnewsfromindonesia.id/2020/05/04/meriam-kapal-hitam-amerika-di-teluk-edo-dan-kunci-modernitas-jepang/amp
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url