Kenapa Wanita Sering Mengalami Tidak Kriminalisasi

Membaca banyaknya kriminalitas di kalangan perempuan, membuat saya tersulut untuk mencari informasinya lebih dalam. Saya mencoba mencari tahu informasi tentang perempuan dan kriminalitas di internet. Lalu mengetikkan kata "perempuan dan kriminalitas". Ternyata berita mengenai perempuan yang menjadi korban kriminalitas atau tindak kejahatan cukup banyak. Mulai dari hal yang ringan seperti penjampretan, penodongan, perampokan, dan penipuan. Sampai kepada hal berat seperti pemerkosaan, pembunuhan.

Sungguh saya sangat prihatin dengan adanya berita-berita itu. Banyak sekali perempuan yang menjadi korban kriminalitas. Setelah saya telusuri lebih dalam banyak faktor besar penyebab rentan nya wanita mengalami tindak kriminalitas.Kehidupan di kota besar turut berpengaruh pada tingginya kriminalitas terhadap perempuan. hal ini diperparah dengan penegakan hukum dan perlindungan hak asasi manusia yang masih minim. kehidupan keras di kota besar menyebabkan orang mudah stres, antara lain dalam perebutan ekonomi atau ruang hidup.

Kedudukan wanita jauh keterbelakangan menjadi korban kekerasan seksual, fisik, dan psikis dikarenakan perempuan hanya dianggap sebagai penghasil keturunan dan objek prostitusi sebagaimana pemikir filsuf saat itu yakni Aristoteles berpendapat bahwa perempuan hanyalah setengah laki-laki, hanya bedanya saat ini tingginya angka kekerasan pada kelompok rentan bukan hanya bicara jumlah melainkan bentuk-bentuknya yang semakin luas mulai dari bentuk klasik hingga memasuki dunia digital. Saat ini di mana pelecehan terhadap seseorang dilakukan melalui media internet dengan konten pornografi dan diskriminasi.

Dari laporan yang diterima Komnas Perempuan, kekerasan terhadap perempuan terutama adalah kekerasan seksual. Dari total 295.836 kasus kekerasan pada tahun 1998-2010, sebanyak 91.311 kasus di antaranya adalah kekerasan seksual. Dari kasus kekerasan seksual yang dilaporkan, 69.251 kasus (76 persen) adalah kekerasan dalam ranah personal. Artinya, pelaku kekerasan adalah orang yang berhubungan darah, seperti ayah, kakak, adik, paman, kakek, kerabat, atau berhubungan dekat, seperti suami atau pacar. Tidak kalah menyedihkan, kasus kekerasan terjadi di ranah publik. Komnas Perempuan mencatat 20.503 kasus (22 persen) yang dilaporkan adalah kekerasan di ruang publik. Di sini pelaku kekerasan antara lain majikan, tetangga, guru, teman sekerja, tokoh masyarakat, atau orang tidak dikenal. Termasuk juga kekerasan yang terjadi di dalam bus umum.

Di sisi lain, hukum dan penanganan pelanggaran hak asasi manusia atas kasus kekerasan kepada perempuan perlu ditegakkan. Penegakan hukum diharapkan bisa membangun rasa percaya diri perempuan untuk mengadukan kekerasan yang dialami mereka. Jadi, kasus itu bisa tuntas dan memberikan efek jera kepada pelanggarnya.

Negara seharusnya menjamin akan hak-hak perempuan sama halnya dengan laki-laki, sebagaimana normatif telah diatur dalam konstitusi UUD Tahun 1945 bahwa setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama tanpa memandang latar belakang, suku ras, agama, gender, dan menjamin akan Hak Asasi Manusia (HAM) bagi setiap orang.

Kelompok rentan sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Pasal 5 ayat 3 tentang Hak Asasi Manusia (HAM) disebutkan bahwa kelompok rentan tidak hanya perempuan dan anak saja namun termasuk juga fakir miskin, orang lansia dan penyandang cacat, sementara dalam Human Rights Reference disebutkan yang termasuk kelompok rentan antaranya, perempuan, anak-anak, suku terasing, kaum minoritas, buruh migran, dan pengungsi. kelompok rentan berhak memperoleh perlakuan dan perlindungan lebih khusus dikarenakan kelompok ini rentan menjadi korban akan kekerasan dan diskriminasi.

Menurut saya Di Indonesia eksistensi perjuangan hak perempuan yang menjadi gerakan feminisme masih menjadi ambiguitas negara yang dicita-citakan menjadi negara demokrasi. Namun pada hal ini negara sama halnya sistem teokrasi atau oligarki, di mana kesetaraan perempuan dan laki-laki masih menjadi konflik gender yang tak usai dimulai dari perjuangan Tokoh RA Kartini dalam memperjuangkan hak-hak perempuan di kehidupan pendidikan dan sosial.Namun yang perlu saya tekankan bahwa feminisme atau emansipasi wanita sebagaimana dimaksud bukanlah semata ingin menjadikan perempuan berhadap hadapan dengan laki-laki, perempuan lebih dominan dalam rumah tangga ataupun menghilangkan kedudukan laki-laki sebagai kepala keluarga. Pola pikir yang harus dibangun ialah perempuan memiliki hak dan kedudukan yang sama dalam kebutuhan dasarnya, mendapat pendidikan pengetahuan teknologi, dan kualitas hidupnya dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Perempuan dan kriminilitas yang sering kita dengar semoga dapat berkurang kasusnya. Para aktivis perempuan sudah mulai menggalang kekuatan agar kaum perempuan sadar bahwa dirinya yang lemah akan menjadi kuat bila mampu membentengi dirinya dengan akhlak mulia, dan menjaga kehormatannya dengan baik. Kaum perempuan juga harus dibekali dengan pemahaman aqidah agama yang benar sehingga mampu menutup auratnya dengan baik sesuai dengan perintah ajaran agama nan suci. Mereka yang kuat dalam menjalankan ajaran agamanya, pastilah orang-orang hebat yang mampu menjadi contoh bagi yang lain.

source :
https://wolipop.detik.com/love/d-2158255/ini-sebabnya-banyak-wanita-menjadi-korban-kekerasan

http://www.politik.lipi.go.id/kolom/763-perdagangan-manusia-dan-kerentanan-perempuan

https://m.antaranews.com/amp/berita/556940/perempuan-rentan-alami-kekerasan-seksual-di-media-sosial

https://www.kompasiana.com/wijayalabs/5510d8c9a33311c739ba8f4d/(http%3A//regional.kompas.com/read/2010/11/25/10245615/Kota.Pengaruhi.Kriminalitas.Perempuan)

Opini Pribadi
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url